Memastikan anak mengikuti intruksi dan memahami semua tuntutan pelajaran selama belajar di rumah bisa jadi bukan perkara mudah bagi sebagian orangtua.
Hal ini wajar terjadi, mengingat orangtua tak punya pengalaman mengajar secara akademis sebelumnya, ditambah orangtua juga memiliki tuntutan pekerjaan yang juga harus dituntaskan. Sehingga masalah belajar di rumah yang berlarut tak hanya rentan membuat orangtua stres, anak pun bisa demikian.
Supaya bisa tetap berpikir positif saat menjalani aktivitas harian yang mungkin penuh tantangan. Berikut tips agar WFH nyaman SFH tenang :
- Membuat jadwal harian
Membuat jadwal harian memudahkan anak untuk tetap belajar tanggung jawab melakukan aktivitas sekolah saat di rumah untuk mengantisipasi rasa malas yang muncul.
Libatkan pasangan dalam hal ini, setidaknya dalam hal mendisiplinkan anak ketika waktu belajar tiba.
- Tertulis dan ditempel di area bersama
Jadwal yang tertulis dapat menjadi media untuk saling mengingatkan satu sama lain tentang hal-hal yang perlu dilakukan setiap harinya. Sehingga, kemungkinan untuk skip atau melewatkan tugas bisa dikurangi.
- Pembagian peran
Bila tugas sekolah anak menumpuk, saatnya membagi peran dengan pasangan, pengasuh atau orang dewasa lain yang ada di rumah, dan mencatatnya dalam jadwal harian. Bisa dilakukan dengan cara bergiliran, sehingga tidak hanya ibu atau ayah saja yang merasa terbebani dan akhirnya stres karena pekerjaan kantor tak selesai.
- Mengatur waktu dalam penggunaan gadget
Bagi orangtua yang memiliki gagdet lebih dari satu, mungkin tak sulit berbagi dengan anak-anak ketika harus melakukan work from home (WFH) sekaligus study from home (SFH). Tapi, untuk keluarga yang harus berbagi laptop atau smartphone, hal ini cukup menantang. Misalnya, anak usia SD harus online dari pukul 8 pagi hingga 12 siang untuk belajar dengan guru di Sekolah. Jadwal ini biasanya berlaku di tiap sekolah. Sementara itu, perkantoran pun memiliki jadwal WFH yang sama.
Jika orangtua mendadak harus meeting atau memiliki jadwal meeting rutin di tengah jam SFH, mintalah izin pada guru agar anak bisa offline sejenak namun tetap mengerjakan tugas sembari orangtua menyelesaikan urusan. Dengan begitu, anak tetap sibuk berkegiatan sementara orangtua bisa tetap bekerja.
- Pelajari materi sebelum mengajarkan pada anak
Penguasaan materi juga penting meskipun status orangtua hanya sebagai “guru pengganti” atau pun “pengawas”. Hal ini khususnya berlaku jika ananda masih usia prasekolah maupun SD. Luangkan waktu sejenak sebelum mendampingi anak belajar untuk membaca-baca materi pelajaran.
- Koordinasi dengan guru
Koordinasi dengan guru penting dilakukan agar orangtua tahu dengan detail apa saja target pembelajaran, materi pelajaran, tugas yang harus dikerjakan, termasuk berkonsultasi jika menemui kesulitan.
- Jam istirahat di sela pelajaran
Jangan hilangkan waktu ini, meskipun anak belajar dari rumah. Orangtua tidak tahu seberapa berat otak mereka berpikir untuk memahami pelajaran. Jeda selama 10-15 menit setiap jam atau setiap satu mata pelajaran bisa menjadi cara menghilangkan lelah dan menambah konsentrasi. Lakukan warm up games atau ice breaker yang bisa orangtua cari di internet. Pikiran orangtua dan anak pun segar kembali dan lebih siap menerima pelajaran berikutnya.
- Miliki support group
Ketika semua langkah di atas sudah dilakukan namun kepala tetap berasap, mungkin saatnya orangtua berbagi cerita dengan teman senasib sepenanggungan. Tidak hanya membuat orangtua lega karena bisa mengeluarkan uneg-uneg, terkadang banyak pengalaman menarik yang membuat orangtua tertawa dan bersyukur. Group komunikasi sesama orangtua murid maupun teman dekat bisa menjadi contoh support group. Namun, jangan sampai group ini menjadi ajang saling membanggakan pencapaian anak. Hindari pula curhat negatif di media sosial.
- Komunikasi dengan atasan
Begitu pula bila ada perubahan kebutuhan di rumah yang tak bisa ditunda, orangtua bisa membicarakan penyesuaian waktu kerja dengan atasan.
Banyak dari orangtua yang merasa keberatan dengan banyaknya tugas yang harus dilakukan oleh muridnya. Keberatan dengan tugas-tugas yang diberikan oleh guru untuk anak. Karena mau tidak mau, orangtua harus mendampingi dan mengawasi anak saat anak mengerjakan tugasnya.
Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari keadaan ini, dan tetap positif dalam menjalankannya serta tips ini bisa menjadi suatu solusi selama mendapingi anak belajar di rumah ditengah kesibukan orangtua.
Sumber : Kumparan.com



