TOILET TRAINING TEPAT WAKTU, APAKAH PENTING ?

Oleh Indah Herlawati

Untuk beberapa ibu termasuk saya, penggunaan popok sekali pakai (pospak) sangat mengguras isi dompet. Mengapa? Karena tidak sadar penggunaan pospak jika dikalkulasikan dalam satu bulan akan membuat pengeluaran semakin membengkak. Rata-rata dalam satu bulan kurang lebih 500.000 harus dikeluarkan untuk membayar pospak. Belum ditambah dengan pengeluaran rutin lainnya contohnya seperti minyak telon. Ketika bayi mulai bertambah usianya, kebutuhan pospak pun akan semakin banyak, ukuran pospak pun juga semakin besar sehingga harga yang harus dibayarkan akan semakin banyak.

            Bertambahnya usia bayi maka kesiapan untuk mulai meninggalkan pospak akan semakin matang. Untuk itu, orang tua harus mulai jeli kapan kiranya sebagai orangtua siap membantu proses toilet training pada anak. Kalau dari pengalaman pribadi, saya merasakan bahwa kesiapan orangtua dalam membantu proses toilet traning menjadi salah satu penentu keberhasilan. Dalam salah satu buku “The Baby Book” disampaikan bahwa penggunaan toilet trainig merupakan permulaan menuju “pendewasaa” (perjalanan ritual dari masa anak batita ke masa anak prasekolah).

            Dalam artikel ini saya akan mengkombinasikan pengalaman pribadi saya dengan teori yang saya tahu mengenai Toilet training. Pertama – tama selain kesiapan orangtua dan anak dalam menjalani toilet training, persiapan toilet yang aman untuk anak, mengetahui tanda-tanda BAK dan BAB, penggunaan pispot jika diperlukan dan pastinya persiapan celana penganti yang lebih banyak dari biasanya. Jika dari pengalaman saya dalam menjalani Toilet Training, saya lebih nyaman tidak menggunakan pispot dan tidak menggunakan celana toilet traning. Saya lebih memilih anak langsung melakukan proses toilet training di wc yang biasa kelurga pakai alasannya adalah membiasakan menggunakan apa yang ada di rumah dan lebih tidak repot harus mengambil pispot saat anak BAK atau BAB.

            Dari buku “The Baby Book” disarankan bahwa melatih untuk melatih BAB lebih dulu, setelah itu baru BAK dalam proses toilet training. Karena tanda-tanda anak ingin BAB mudah untuk dilihat daripada BAK. Didalam buku tersebut mengatakan bahwa untuk mengendalikan material padat lebih mudah dari pada mengendalikan material cair. Pola pembuangan bayi juga secara alami akan berubah tidak hanya pembuangan material padat namun juga untuk material cair. Dimana biasanya saat usia 6 bulan bayi masih BAB pada malam hari, namun ketika usia sudah mulai menginjak satu atau bahkan dua tahun akan sangat jarang sekali BAB pada malam hari. Begitupun dengan volumenya saat usia 6 bulan, volume akan lebih sedikit namun dalam satu hari bayi bisa melakukan BAB lebih dari sekali. Hal tersebut akan beubah saat bayi berusia satu at            au dua tahun, volume BAB akan jadi lebih banyak namun intensitasnya menjadi lebih sedikit.

            Mengawali proses toilet training disarankan pada usia yang tepat tidak terlalu dini namun juga tidak terlambat. Bayi sudah bisa mulai diajarkan toilet training pada usia 18-24 bulan dimana pada saat tersebut otot dan syaraf yang mengatur proses keluarnya tinja dan urin sudah cukup matang. Lalu bagaimakah memulainya? apakah jika persiapan sudah sangat matang akan dijamin tidak akan menemui masalah saat proses toilet training berlangsung?. Nanti akan kita bahas di artikel selanjutnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *