Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam adalah manusia yang mulia dan telah dijamin masuk surga oleh Allah, bahkan Rasulullah disebut juga kekasih Allah dan banyak sekali keistimewaan yang terjadi semenjak Rasulullah lahir. Rasulullah dilahirkan oleh ibu yang bernama Aminah dan ayahnya bernama Abdullah. Nasab Rasulullah yang telah disepakati oleh para pakar sirah dan nasab, yaitu “Muhammad bin Abdullah, bin Abdul Muthalib, bin Hasyim, bin Abdu Manf, bin Qushay, bin Kilab, bin Murrah, bin Ka’ab, bin Lu’ay, bin Ghalib, bin Fihr, bin Malik, bin Nadhr, bin Kinanah, bin Khuzaimah, bin Mudrikah, bin Ilyas, bin Mudhar, bin Nizar, bin Ma’ad, bin Adnan.”
Sebagai ummat muslim yang merupakan ummat Rasulullah, sangat penting mempelajari sirah Rasulullah agar bisa meneladani akhlaknya, mengerjakan sunnah-sunnahnya, dan menjadikannya sebagai idola atau panutan dalam hidup. Oleh karena itu, dalam memperingati hari kelahiran Rasulullah yaitu tanggal 12 Rabi’ul Awwal, SIT Al Lauzah mengadakan kegiatan yang bisa mengedukasi siswa-siswi dan bisa mengetahui serta memahami sirahnya. Ustadz dan bunda guru dari semua divisi bekerjasama untuk mempersembahkan beberapa diorama, dimana masing-masing diorama memiliki cerita dari Rasulullah lahir hingga wafat. Berikut cerita masing-masing diorama:
Kelahiran Rasulullah
Rasulullah dilahirkan di tengah keluarga Bani Hasyim di Mekkah pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah dan bertepatan dengan tanggal 22 April tahun 571 M. Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa ibunda Rasulullah berkata, “Setelah bayiku keluar, aku melihat ada cahaya yang keluar dari kemaluanku, menyinari istana-istana di Syam.” Diriwayatkan juga bahwa ada beberapa bukti pendukung kerasulan bertepatan dengan kelahiran Rasulullah, yaitu runtuhnya 14 balkon istana Kisra, padamnya api yang biasa disembah orang-orang Majusi, dan runtuhnya beberapa gereja di sekitar Buhairah.
Peternakan Rasulullah
Sejak kecil Rasulullah sudah menggembala hewan seperti kambing atau domba, dimana upah yang Rasulullah peroleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada usia 9 tahun, Rasulullah bersama dengan pamannya yaitu Abu Thalib pergi ke negeri Syam untuk berdagang dan menjual hasil ternaknya.
Pasar di Negeri Syam
Ketika Rasulullah berusia 25 tahun, kembali ke negeri Syam untuk berdagang dan menjual dagangannya Khadijah. Khadijah adalah salah seorang wanita pedagang yang memiliki banyak harta dan bernasib baik, Khadijah banyak menyewa kaum lelaki untuk memperdagangkan hartanya dengan sistem bagi hasil. Rasulullah dikenal sebagai pedagang yang handal, amanah, dan berakhlak baik. Ketika Khadijah mengetahui pribadi Rasulullah, maka ia menyerahkan barang dagangannya kepada Rasulullah. Rasulullah didampingi oleh pembantunya yaitu Maisarah selama berdagang di Syam dan menjual dagangannya Khadijah.
Ketika Rasulullah pulang ke Makkah, Khodijah melihat betapa amanahnya Rasulullah terhadap harta yang diserahkan kepadanya, begitu juga dengan keberkahan dari hasil perdagangan yang belum pernah didapati sebelumnya. Selain itu, informasi yang diperoleh dari Maisarah pembantunya tentang budipekerti Rasulullah, kejeniusan, kejujuran, dan keamanannya maka ia seakan menemukan apa yang dicarinya selama ini (calon suami) padahal banyak kaum laki-laki bangsawan dan pemuka yang sangat berkeinginan untuk menikahinya tetapi semuanya ia tolak. Akhirnya, dia menceritakan keinginan hatinya kepada teman wanitanya, yaitu Nafisah binti Munayyah yang kemudian bergegas menemui Rasulullah dan meminta kesediaan Rasulullah untuk menikahi Khodijah, Rasulullah pun menyetujuinya dan menceritakan hal tersebut kepada pamannya, kemudian mereka mendatangi rumah Khodijah untuk melamar keponakannya, pernikahan pun berlangsung setelah itu dan akad tersebut dihadiri oleh Bani Hasyim dan para pemimpin Mudhar.
Gua Hira, Tempat Turunnya Wahyu Pertama
Pada usia 40 tahun, Rasulullah senang mengasingkan diri. Rasulullah pergi ke Gua Hira setelah melalui perenungan yang lama dan perbedaan pemikiran dengan kaumnya, Rasulullah pergi ke Gua Hira di Jabalnur yang jaraknya kira-kira 2 mil dari kota Mekkah dengan membawa roti dari gandum dan air. Selanjutnya turun wahyu pertama yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Rasulullah yaitu surah Al-‘Alaq ayat 1-5. Kemudian Rasulullah pulang dan merekam bacaan tersebut dalam kondisi hati yang bergetar, lalu menemui Khadijah sembari berucap “selimutilah aku”. Rasulullah diselimuti hingga badannya tidak lagi menggigil layak terkena demam.
Wafatnya Rasulullah
Pada hari Senin di bulan Rab’iul Awwal tahun 11 Hijriyah, sakit yang diderita Rasulullah semakin parah dan kondisinya semakin kritis, lalu para sahabat berkumpul di rumah Aisyah. Fathimah tampak amat bersedih seraya berkata, “alangkah parahnya sakit yang diderita engkau wahai ayahku.” Rasulullah kemudian memandang Fathimah seraya berkata, “Wahai anakku, setelah hari ini, ayahmu tidak akan pernah sakit lagi.”
Abdullah bin Abu Bakar masuk ke rumah Aisyah sambil membawa siwak. Rasulullah pun memperhatikan Abdullah, Aisyah tahu bahwa Rasulullah sangat suka bersiwak, “Maukah aku ambilkan siwak untukmu Ya Rasulallah?” Ucap Aisyah, Rasulullah mengangguk, tapi ternyata siwak itu terlalu kasar, Aisyah pun melembutkan siwak itu dengan menggigit-gigitnya lalu memberikannya lagi kepada Rasulullah. Kemudian beliau bersiwak dengan sebaik-baiknya.
Setelah itu memasukkan tangannya ke dalam sebuah baskom berisi air yang berada di sampingnya lalu mengusapkan wajahnya dengan air seraya berkata dengan suara yang amat parau “Laa ilaaha illa Allah, sesungguhnya ada sekarat dalam kematian” beliau mengangkat tangannya sambil berdoa “Fii rofiiqil A’la”.
Tiba-tiba Aisyah merasakan kepala Rasulullah memberat, urat-uratnya tegang, peluhnya mengucur deras, dan nafasnya sesak, beliau hendak mengembalikan siwak itu kepada Aisyah. Namun, saat menjulurkan tangannya, siwak itu terjatuh, tangan dan tubuh Rasulullah melemas. Malaikat maut telah mencabut nyawa kekasih Allah yang amat dicintai, seketika wangi harum menyebar di ruangan itu, Rasulullah menghembuskan nafas terakhirnya dipelukan Aisyah, di antara dagu dan kerongkongannya.
Aisyah kemudian membaringkan jasad mulia itu sambil menahan tangisnya. Seketika suara isak tangis pecah di ruangan tersebut, Fatimah menangis seraya berkata “Wahai ayahku yang telah memenuhi panggilan Rabbnya, wahai ayahku yang surga firdaus adalah tempat kembalinya.” (HL) 


