Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Said Jubair bin Abbas, dari Ulama besar Ibnu Abbas radhiallahu anhu, beliau berkata, “Alquran ini, 6000 ayatnya adalah kisah, 600 ayatnya berupa tanda kebesaran Allah, 60 ayatnya adalah aturan muamalah, sedangkan 6 ayatnya adalah berisi hukum-hukum hudud.” . Diantara keseluruhan isi Al-Qur’an maka mayoritas didominasi isinya dengan kisah hingga hampir dua pertiga isi Alquran adalah kisah dan sejarah.
Dan, yang paling banyak dikisahkan dalam al-qur’an adalah para pemuda. Tentang bagaimana para pemuda tangguh yang mampu mengemban tugas memperbaiki dunia, hingga para pemuda yang terpuruk dengan ketidakmampuan dalam ketaatannya. Allah memberikan gambaran yang sempurna, betapa seorang pemuda, harusnya mampu mengemban tugas perkembangannya dengan amanah. Menemukan dengan pasti, misi utama yang telah Allah berikan tanggung jawab di pundaknya.
Pemuda dan remaja memiliki makna yang berbeda. Dan para ahli psikologi meyakini hal itu. Remaja merupakan transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa. Dan pemuda merupakan masa dewasa awal. Maka, untuk menghadirkan pemuda yang bermutu, dibutuhkan remaja yang telah melewati tahapan masa anak-anaknya sesuai dengan tahapan perkembangannya. Terstimulus dengan baik ke – 5 domain berfikirnya sehingga ketika gelar pemuda telah disandingnya, ia mampu melakukan perjuangan untuk hadir di masyarakat luas, membangun pribadi yang mandiri dan terlibat secara sosial. Bukan lagi seorang pemuda, yang masih berkutat dengan konsep diri dan masih kebingungan mendefinisikan dirinya.
Seorang pemuda seperti kisah Talhah ibn Ubaidillah ra (16 tahun) yang memeluk Islam saat masih remaja dan dengan berani memiliki karakter kuat dalam dirinya, ia melindungi Nabi terhadap belati dan anak panah dengan tubuhnya sendiri. Teladan seorang pemuda yang memiliki kepribadian dan kemandirian dalam hidup, sehingga kehadirannya memiliki manfaat untuk oranglain. Pastinya, bukan kurikulum biasa yang diberikan untuk menghadirkan sosok pemuda sesuai dengan fitrah dan tugas perkembangannya, dan, pastinya, bukan pula terlahir dari orangtua yang hanya berfokus pada bidang akademik dan berbagai pencapaian nilai angka-angka. Juga tidaklah bisa dihadirkan dari para pendidik yang hanya berfokus pada ketuntasan materi tanpa diiringi keteladanan dan kesesuaian antara ucapan dan perilaku diri.
Maka, mampukah kita menghadirkan seorang pemuda di zaman ini seperti yang dikisahkan dalam Al-Qur’an ?.
#SMP-SMAIT Al-Lauzah
#Sekolah Para Pemimpin




