Melatih Kemandirian Anak

Membangun karakter seorang anak harus dilakukan sejak dini bahkan seharusnya mulai memberi rangsangan positif sejak masih di dalam kandungan, misalnya memberikan contoh secara nyata bahwa Ibu pun memiliki sikap mandiri dan selalu bisa diandalkan di lingkungan sekitarnya. Fenomena yang terjadi saat ini karena pengaruh perkembangan globalisasi dan teknologi yang kian meningkat, membuat segalanya lebih mudah dan instan, sehingga seringkali kita pun sebagai orang tua juga menjadi berpikir praktis, menyerahkan seluruh urusan pendidikan kepada sekolah, padahal kunci utama pembangunan karakter diawali dari rumah. Pihak sekolah hanya menjadi partner yang berdampingan dalam berperan serta ikut membangun nilai-nilai pada diri anak. Hal ini tentu jangan sampai dibalik, orang tua harus tetap menjadi pelaku utama yang memberikan teladan terlebih dahulu kepada anak.

Ada hal yang harus kita terapkan jika ingin membangun kemandirian anak sejak dini, yaitu:

1. Konsistensi

Diawali dengan niat yang kuat dan usaha kerja keras yang tiada henti. Proses latihan anak agar dapat mandiri bukanlah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan, tetapi membutuhkan sebuah proses yang akan melibatkan seluruh emosi, tenaga, waktu, dan keseriusan orang tua agar anak-anak berhasil melewatinya dengan cara menyenangkan. Untuk itu, orang tua butuh bekerjasama kepada seluruh anggota keluarga dan lingkungan. Hal paling sederhananya membuat kesepakatan bersama anak yang kemudian telah disetujui oleh kedua belah pihak, baik anak maupun orang tua. Belajarlah untuk konsisten menjalankan kesepakatan yang telah dibuat. Tetapi jangan mengharapkan hasil yang sempurna, karena semuanya berproses.

2. Motivasi

Niatan awal dan dasar orang tua melatih anak mandiri perlu menjadi sandaran utama keseluruhan proses. Curahkan segalanya untuk kebaikan anak, niscaya akan lebih mudah menjalaninya. Berikan pujian setiap anak berhasil melakukan usahanya, apapun hasilnya. Siapkan kejutan-kejutan menarik di saat tak terduga, karena hal itu akan memotivasinya untuk semangat dalam berlatih. Jika memang hasil yang didapatkan anak belum maksimal di sekolahnya, Hindari memojokkan hasil yang telah diraih oleh anak dengan kalimat tuntutan terus-menerus. Percayalah kalimat-kalimat nasihat yang hanya berupa sindiran apalagi penuh tekanan hanya akan membuat luka pada hati anak, dan sudah dipastikan kalimat nasihat yang sudah dirangkai sedemikian rupa hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan. Yuk, bijak dengan mengedepankan berbicara heart to heart kepada anak.

3. Teladan

Mulailah dari diri kita sendiri. Karena jangan berharap orang lain untuk berubah tanpa kita berubah terlebih dahulu. Orang tua adalah teladan anak-anak, di mana setiap tindakan kita akan ditiru oleh mereka. Maka jangan harap anak kita bisa mandiri jika kita sebagai orang tua masih sering mengeluh terhadap hal-hal yang remeh dan hanya mampu mengandalkan orang lain. Mengharapkan anak berani, tapi dalam keseharian jika ingin bepergian harus ada yang menemani. Maka ubah perilaku dan mindset mulai saat ini, Jangan ‘memaksa’ anak untuk berani, sebelum kita sebagai orang tua menjadi teladan individu yang mandiri! Let’s be independent!. Dan ini berlaku jika kita ingin membangun karakter lainnya, mulailah dari diri kita sendiri, kelak anak akan mudah dalam mencontoh karena memiliki teladan nyata.

Sumber: Bunda Sayang_Ibu Profesional

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *